RIAU — Pasar keuangan Asia membuka perdagangan dengan arah yang saling bertolak belakang di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi pendorong utama penguatan kawasan dengan reli 2%, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia tergelincir tipis dan Nikkei 225 Jepang menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 0,9%.
Gerak variatif ini terjadi setelah kontrak berjangka (futures) indeks utama AS mengindikasikan pembukaan yang beragam, menyusul sesi sebelumnya di Wall Street yang ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 menjadi penekan utama dengan koreksi masing-masing 0,5%, sementara Nasdaq yang sarat saham teknologi relatif lebih tahan dengan pelemahan 0,3%.
Gencatan Senjata Gagal, Harga Minyak Melonjak dan Imbal Hasil Obligasi Tembus Rekor
Tekanan utama pasar berasal dari sektor energi. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% setelah gencatan senjata AS-Iran berakhir pada Senin tanpa kesepakatan perpanjangan. Negosiasi antara kedua negara dilaporkan menemui kebuntuan, meningkatkan spekulasi pasar akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan penghasil minyak tersebut.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa negaranya akan menyerang Oman jika negara tersebut dinilai menghalangi langkah militer AS. Pernyataan ini semakin mempertebal ketidakpastian di pasar komoditas dan energi global.
Kenaikan harga minyak mentah otomatis memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi. Imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 30 tahun langsung melesat ke level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak Juni 2007, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa tekanan harga akan bertahan lebih lama dan mempersempit ruang pelonggaran moneter Federal Reserve.
Reli Pasar Mulai Meluas ke Luar Saham Teknologi, Peluang Penguatan Masih Terbuka
Di tengah tekanan indeks utama, sejumlah pelaku pasar justru melihat peluang yang mulai terbentuk. Sonali Basak, chief investment strategist di iCapital, menilai pasar saham AS masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan karena reli mulai meluas ke luar kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar.
"Anda melihat sekeliling dan masih ada lebih banyak ruang untuk bergerak," kata Basak kepada CNBC dalam wawancara dengan "Closing Bell".
Basak menyoroti bahwa indeks S&P Equal Weight masih belum mengungguli Nasdaq maupun SOXX dalam sebulan terakhir. Kondisi ini mengindikasikan saham-saham di luar kelompok Big Tech masih relatif tertinggal dan memiliki potensi apresiasi yang belum tergarap.
Data Ekonomi AS dan Laporan Home Depot Menjadi Katalis Berikutnya
Dari sisi data makro, investor akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS yang dijadwalkan rilis hari ini. Data tersebut mencakup harga impor dan ekspor untuk Juli, pembangunan perumahan baru (housing starts), serta penjualan rumah yang masih dalam proses (pending home sales).
Selain data ekonomi, laporan keuangan perusahaan ritel Home Depot yang dirilis sebelum pembukaan perdagangan bursa AS juga akan menjadi sorotan. Kinerja emiten ritel terbesar di AS tersebut akan menjadi barometer kesehatan belanja konsumen di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.
Investasi mengandung risiko.