JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menargetkan pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) di kisaran 6%–7% secara tahunan (year on year/YoY) tahun ini. SVP Consumer Credit BCA, Melani Megawati, mengatakan target KPR pada 2026 tidak jauh berbeda dengan posisi 2025, yakni di rentang 6%–7% YoY.
“Kita sama dengan yang tahun kemarin ya 2025, 6%–7%,” kata Melani dalam rangkaian BCA Expoversary 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis, 5 Februari 2026. Melani optimistis permintaan KPR akan meningkat karena sejumlah stimulus pemerintah untuk sektor perumahan tetap berjalan.
Pemerintah kembali memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah hingga Desember 2027. Menurut Melani, perpanjangan ini menjadi salah satu pendorong masyarakat untuk membeli rumah di tahun ini.
Permintaan KPR pada November hingga Desember 2025 melonjak dibandingkan September 2025. Lonjakan terjadi jelang penutupan program PPN DTP, sebelum pemerintah memutuskan memperpanjang insentif tersebut.
Pengaruh Kebijakan BI terhadap KPR dan Kredit Konsumer BCA
Melani tidak merinci total kenaikan KPR pada dua bulan tersebut. “Jadi pada saat itu baru tuh terjadi realisasi yang menurut kita malah lebih naik dibanding bulan sebelumnya,” ujarnya.
Selain insentif PPN DTP, keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di posisi 4,75% pada Januari 2026 turut mendukung pertumbuhan KPR. Langkah ini membuat masyarakat lebih mudah mengakses pembiayaan rumah.
Secara keseluruhan, BCA menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8%–10% pada 2026. Penyaluran kredit sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp933 triliun, tumbuh 7,7% YoY dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit 2025 didorong oleh kredit usaha yang tumbuh 9,9% YoY hingga mencapai Rp756,5 triliun. Dari sisi pembiayaan konsumer, outstanding kredit mencapai Rp224,1 triliun, dengan KPR menyumbang Rp142,3 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) Rp56,6 triliun.
Peranan KPR dalam Strategi Pertumbuhan Kredit BCA
KPR menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan kredit konsumer BCA. Dengan target 6%–7% YoY, bank berharap sektor perumahan tetap menjadi segmen strategis untuk ekspansi kredit.
Melani menekankan bahwa kombinasi insentif pemerintah dan suku bunga rendah akan memacu minat masyarakat. Hal ini diyakini dapat menjaga stabilitas penyaluran KPR sepanjang 2026.
Selain KPR, pinjaman konsumer lainnya, terutama kartu kredit, tercatat sebesar Rp25,2 triliun. Jumlah ini meningkat 9,8% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu, menandakan permintaan kredit konsumer masih solid.
Stimulus Pemerintah dan Prospek Sektor Properti
Perpanjangan PPN DTP menjadi faktor utama yang mendukung pembelian rumah. Stimulus ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan keringanan pajak saat membeli hunian.
BCA optimistis kebijakan ini akan berkontribusi pada pertumbuhan KPR secara berkelanjutan. Permintaan di bulan terakhir insentif 2025 menjadi indikator bahwa masyarakat cenderung merespons program pemerintah dengan cepat.
Bank juga menyiapkan strategi agar pertumbuhan kredit tetap terkendali. Dengan manajemen risiko yang baik, BCA berharap dapat menjaga kualitas portofolio kreditnya di sektor properti.
Optimisme BCA terhadap Pertumbuhan Kredit Konsumer Tahun 2026
Melani menyatakan pihaknya optimistis target pertumbuhan kredit akan tercapai. Faktor pendukung utama adalah kombinasi antara insentif pemerintah, suku bunga rendah, dan pemulihan ekonomi secara umum.
BCA menekankan pentingnya memonitor permintaan KPR secara berkala. Hal ini untuk menyesuaikan strategi bisnis dan memastikan bank tetap responsif terhadap dinamika pasar properti.
Kredit konsumer, termasuk KPR, KKB, dan kartu kredit, akan terus menjadi fokus ekspansi BCA. Bank menargetkan pertumbuhan yang seimbang antara segmen usaha dan konsumer untuk menjaga stabilitas portofolio.
Melani menambahkan, BCA juga mengoptimalkan layanan digital untuk mempermudah akses KPR. Aplikasi dan kanal online memungkinkan masyarakat melakukan pengajuan kredit dengan lebih cepat dan efisien.
Pertumbuhan kredit tahun ini diharapkan selaras dengan upaya pemerintah meningkatkan kepemilikan rumah masyarakat. Stimulus fiskal dan kebijakan suku bunga menjadi kombinasi yang mendukung pencapaian target tersebut.
BCA tetap berfokus pada kualitas kredit dan manajemen risiko. Strategi ini diyakini dapat menjaga performa kredit konsumer sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan target pertumbuhan KPR 6%–7% YoY, BCA berharap dapat memberikan kontribusi signifikan bagi sektor perumahan. Pertumbuhan ini diharapkan sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi dan permintaan masyarakat yang terus meningkat.
Kesimpulannya, kombinasi insentif pemerintah, suku bunga rendah, dan strategi manajemen risiko membuat BCA optimistis. Target KPR 2026 tidak hanya realistis, tetapi juga menjadi indikator kekuatan sektor properti dan konsumer di Indonesia.