Ekspor Nonmigas Naik 13,66%, Kopi-Tembakau Melonjak 54%

Kamis, 17 September 2026 | 06:08:02 WIB

SUKSESFINANSIAL.ID — Indonesia mencatat nilai ekspor April 2026 sebesar US$25,30 miliar, ditopang kenaikan ekspor nonmigas 13,66% saat migas turun 9,81%. Kopi, teh, dan rempah-rempah menjadi komoditas dengan pertumbuhan tertinggi, melonjak 54,44%, disusul tembakau dan rokok 43,49%. Hilirisasi industri pengolahan agro menjadi motor utama nilai tambah nasional.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pertumbuhan ekspor komoditas agro didorong permintaan global yang tinggi diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi itu memberi dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia.

Sepanjang Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$92,15 miliar, naik 5,48% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas tumbuh 6,28% menjadi US$87,74 miliar, dengan sektor industri pengolahan meningkat 9,78%.

Kopi, Tembakau, dan Kakao Jadi Andalan

Beberapa subsektor agro menunjukkan prospek kuat. Indonesia tercatat sebagai eksportir produk hasil tembakau terbesar keenam dunia, dengan cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah diakui pasar global.

Untuk kopi, Indonesia merupakan produsen terbesar keempat dunia dengan ekspor kopi olahan mencapai US$692 juta, meningkat 4,36%. Adapun produk olahan kakao menempati posisi keempat global, sementara produsen biji kakao berada di nomor tujuh.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyebut pasar makanan dan minuman artisan global pada 2025 diperkirakan mencapai US$332 miliar. Nilai itu diproyeksikan meningkat hingga US$627,3 miliar pada 2032.

"Kenapa kami mengusulkan? Karena Indonesia memiliki kekuatan yang besar sekali untuk menjadi negara berbasis agro-industri yang bisa membantu berbagai bangsa dan berbagai negara untuk mengembangkan agro-industri seperti yang ada di Indonesia," ujar Faisol.

Kakao Masih Bergantung Bahan Baku Impor

Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Jeffrey Haribowo mengungkapkan sebagian besar komoditas kakao nasional telah dikirim ke luar negeri dalam bentuk olahan seperti butter, powder, dan liquor. Meski demikian, bahan baku industri kakao di Indonesia masih banyak berasal dari impor.

"Namun demikian, kenyataan bahwa saat ini sebagian besar bahan baku industri kakao di Indonesia masih dari impor, maka nilai tambah dalam perdagangan belum bisa optimal," kata Jeffrey.

Kebutuhan industri kakao nasional mencapai sekitar 450.000 ton per tahun dan belum bisa dipenuhi seluruhnya dari pasokan lokal. Impor biji kakao juga tetap diperlukan untuk menghadirkan cita rasa yang diharapkan produsen cokelat.

Pemerintah merencanakan peremajaan perkebunan kakao seluas 240 ribu hektar hingga 2027 melalui pendanaan APBN dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Jeffrey menilai langkah kolaboratif itu perlu diapresiasi untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional.

Keterkaitan Hulu-Hilir Dorong Dampak Ekonomi

Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI Christina Ruth Elisabeth menyebut sektor strategis memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang tinggi. Artinya, hubungan sektor hulu dan hilir industri agro sangat kuat.

Berdasarkan penelitian dengan data BPS, tembakau, kakao, dan kopi berada di atas poin satu. "Ini memang keterkaitan ke depannya tinggi dan strategis untuk dikembangkan," ujar Christina.

Industri hasil tembakau (IHT), misalnya, menyerap input dari sektor hulu seperti bibit, pupuk, pestisida, mesin pertanian, hingga jasa logistik. Keterkaitan itu membuat dampak ekonominya terasa langsung oleh masyarakat di tingkat bawah.

Terkini